Sejarah Kopi Lampung
Kopi yang mulai digunakan sejak 800 SM itu, telah menjadi minuman masyarakat dunia. Lebih dari 50 negara di dunia mengembangkan agro industri pertanian kopi. Indonesia menempatkan posisi ketiga terbesar produsen kopi, setelah Brasil dan Vietnam.
Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi robusta (Coffea canephora) dan kopi arabika (Coffea arabica). Secara umum peminat kopi dunia lebih condong mengkonsumsi kopi arabika, karena memiliki varian rasa yang lebih bervariasi, sebaliknya peminat kopi robusta tidak banyak tetapi fanatik akan rasa robusta yang khas. Tingkat keasaman kopi robusta yang lebih tinggi dengan rasa pahit dan umumnya digunakan untuk espresso atau penggunaan kopi bubuk secara asli atau campuran untuk mendapatkan varian rasa yang lain. Istilah robusta mengambil dari kata bahasa Inggris, 'robust' yang artinya kuat, untuk menggambarkan kadar kafein yang kuat.
Indonesia termasuk pengembang dari dua varitas ini, tetapi kopi robusta lebih banyak dibudidayakan dari pada arabika. Sebenarnya ada satu jenis kopi yang juga di konsumsi tetapi kurang populer yaitu varietas liberika dan excelsa, tetapi tidak dikembangkan di Indonesia. Pulau Sumatra adalah penghasil utama yang terbesar di Indonesia, yang disokong oleh empat provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan dan Lampung. Aceh dan Sumatra Utara sebagai penghasil utama untuk jenis arabika sedangkan Lampung dan Sumatra Selatan terkenal sebagai penghasil kopi robusta. Awalnya pengembangan kopi robusta tidak menarik karena rasanya lebih pahit dan lebih asam, tetapi justru dari rasanya inilah muncul penggemar kopi yang lebih bisa menikmati kopi robusta dibandingkan dengan kopi arabika.
Pada awalnya memang kopi arabika dikenal lebih dahulu, sehingga para pencinta kopi sudah terbiasa dan membudaya menggunakan kopi arabika, tetapi kecendrungan ini semakin lama semakin berubah karena konsumsi kopi robusta naik secara reguler. Seperti yang dijelaskan oleh Moelyono Soesilo dari Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) mengatakan; "meski arabika lebih banyak dicari, konsumsi kopi robusta akan tetap meningkat secara reguler. Proporsi konsumsi antara arabika dan robusta pun tidak berbeda jauh. Jika pada 2010 konsumsi robusta hanya 35 persen, kini mencapai 40-42 persen."
Hal yang menyebabkan rasa kopi identik dengan tempat dan lokasi tanam karena kandungan-kandungan yang membentuk rasa kopi tergantung dari kondisi iklim, unsur hara tanah, pengaruh fisiologis, lokasi geografis lokasi pertanian dan ketinggian areal penanaman dari atas permukaan laut. Kopi dengan jenis varietas sama yang ditanam ditempat yang berbeda belum tentu mendapatkan rasa kopi yang sama. Inilah yang menyebabkan rasa kopi dari Sumatra banyak diminati oleh penikmat kopi, termasuk kopi Lampung Barat dan kopi Way Kanan Lampung.
Pada tahun 2018 produksi kopi Lampung 107.183 ton, turun dari produksi tahun 2017 sebesar 104.716 ton seperti data yang dilansir dari digilib.unila.ac.id. Kabupaten Lampung Barat merupakan penghasil terbesar kopi robusta, kemudian Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Pesisir Barat dan Kabupaten Tenggamus. Di Kabupaten Way Kanan, Pemda setempat sedang mengembangkan demplot (kebun percontohan) dengan luas sepuluh hektare untuk penanaman percontohan kopi robusta yang dipusatkan di tiga kecamatan yaitu, Banjit, Kasui dan Rebang Tangkas.
Kopi lampung telah terkenal dan banyak diketahui para penikmat kopi. Bukan saja sejak kopi telah menjadi komoditas prestisius seperti sekarang yang telah didukung oleh banyak hadirnya cafe cafe baru yang bermunculan. Kopi Lampung sudah dikenal sejak masa kolonial Hindia Belanda. Kopi yang awalnya ditemukan dan digunakan bangsa Etiopia dengan cara mengonsumsi biji kopi dengan cara mencampurkan bubuk kopi dengan dengan lemak hewan serta anggur. Dengan cara ini, mereka meyakini dapat meningkatkan stamina dan kebutuhan asupan energi tubuh. Dari Afrika kopi menyebar ke zajirah Arab yang mengkonsumsi kopi dengan cara seduh seperti sekarang. Dari zajirah Arab kemudian juga ke Turki. Turki yang sebagian wilayahnya masuk Eropa menyebarkan biji kopi fertil ke Eropa yang ditanam oleh bangsa Spanyol dan Venesia. Kemudian Bangsa Belanda membawa bibit kopi ke Hindia Belanda, yaitu ke Pulau Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Ternyata hasil dari Pulau Sumatra sangat potensial.
Kopi menjadi komoditas pertanian di Sumatra yang cukup handal. Ada tiga penghasil kopi di Sumatra yang terkenal yaitu Kopi Gayo di Aceh, Kopi Medan di Sumatra Utara dan Kopi Lampung yang berasal dari Lampung Barat dan Way Kanan. Pada masa Hindia Belanda berkuasa komoditas kopi juga menjadi perhatian para pebisnis VOC Belanda. Bangsa Belanda menyebut kopi dengan istilah koffie yang meniru istilah kahveh yang berasal dari Turki dan istilah qahwah yang berasal dari bahasa Arab.
Pada awalnya Pemerintah Hindia Belanda baru tahap awal untuk penelitian kopi dengan ditanam di Pulau Jawa di daerah Kedaung yang masih berdekatan dengan Batavia (Kota Tua Jakarta sekarang) pada tahun 1696 tetapi hasilnya tidak memuaskan karena tanaman kopi membutuhkan ketinggian sebagai syarat tumbuh yang baik pohon kopi. Setelah itu percobaan penanaman dipindahkan ke Malabar, Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hasil dari sini ternyata berhasil baik karena iklim dan ketinggian yang memenuhi syarat. Hasil pembibitan kopi di Malabar ini disebarkan ke berbagai tempat di kawasan Hindia Belanda lainnya, termasuk Aceh, Sumatara Utara dan Lampung yang dapat tumbuh dengan baik. Selain Sumatra pulau lain yang diujicobakan adalah Sulawesi, Bali, pulau-pulau Sunda Kecil dan Tomor.
Pembukaan lahan kopi di Sumatra juga adalah bagian dari Politik Etis Belanda. Seperti yang diungkapkan oleh Hari Ganjar Budiman (2012) yang menuliskan: “Memasuki masa Politik Etis, pembudidayaan kopi sampai Sumatera, salah satunya hingga ke daerah Lampung. Beriringan dengan proses kolonisasi (perpindahan penduduk) tahap pertama (berlangsung dari 1905 sampai 1911) di Lampung, para kolonis asal Jawa dan kolonis keturunan Tionghoa mulai membuka lahan dan mengembangkan tanaman kopi. Tanah Lampung yang subur serta luas memungkinkan pembudidayaan kopi dalam jumlah besar melalui perkebunan rakyat yang tersebar di mana-mana. Perkebunan ini terus berkembang dari masa pemerintah Hindia-Belanda hingga masa Indonesia merdeka. ada masa itu bangsa Eropa khususnya Belanda sebenarnya melihat Keresidenan Lampung sebagai penghasil lada dan cengkeh saja tetapi juga kopi. Kopi pada masa itu merupakan komoditas kedua setelah lada. Komoditas pertanian asal Lampung tersebut pernah menempatkan Lampung sebagai penghasil tertinggi dari seluruh kawasan Hindia Belanda. Dalam catatan Dubuis seorang Belanda yang pernah menduduki jabatan di Kresidenan Lampung pada era keresidenan sipil. Lampung pernah memasok 70% komoditas ke Batavia pada priode setelah tahun 1900-an. Ini bukti bahwa potensi komoditas pertanian Lampung sebagai penghasil kopi, lada dan cengkeh sudah sangat tinggi sejak lama.
Untuk Pengembangan produksi kopi di Lampung, Pemerintah Hindia Belanda awalnya mencoba menanam varietas arabika, tetapi pada perkembangan berikutnya Belanda lebih memvariasikan tanaman kopi. Belanda juga mencoba mendapatkan bibit kopi robusta langsung dari Kongo yang mulai diperkenalkan pada tahun 1898. Upaya penanaman kopi robusta di Sumatra konon kabarnya karena Ratu Belanda, Yuliana adalah penimkat kopi robusta yang fanatik. Dalam kaitan dengan varietas kopi robusta, posisi geografis Lampung diuntungkan karena memiliki iklim tropis yang menjadi rumah yang ramah bagi kopi robusta. Penanaman varietas kopi robusta di Lampung berhasil dengan baik karena memiliki iklim, kondisi alam dan ketinggian sekitar 2000 mdpl dapat terpenuhi, khususnya diwilayah dataran tinggi dan pegunungan seperti di Lampung Barat, Tenggamus dan Way Kanan. Sampai sekarang penanaman kopi robusta Di Lampung Barat masih banyak dilakukan di Liwa, Waytenong, Sekincau, Fajar Bulan dan Air Hitam. Sedangkan di Way Kanan penanaman kopi banyak dilakukan di Banjit, Kasui, Baradatu dan Rebang Tangkas.
Pada tahun 1992 Pemerintah Orde Baru pada waktu itu melihat robusta sulit untuk dipasarkan di pasar ekspor, sehingga mengeluarkan kebijakan untuk melakukan arabikanisasi di Pulau Sumatra yang mencontoh keberhasilan Kalibendo di Banyuwangi dan Kintamani di Bali, tetapi ternyata program ini gagal karena banyak bibit arabika yang berkembang tidak baik bahkan mati, sehingga kebijakan ini dihentikan. Sampai saat ini Indonesia masih dominan sebagai eksportir kopi robusta. Dari total produksi kopi di Indonesia, 80% adalah kopi robusta, dan hanya saja 20% kopi arabika.
Saat ini faktanya pasar komoditas kopi robusta semakin ramai. Salah satu bursa kopi robusta Indonesia ada di bursa NYSE Liffe dan juga London, bursa Intercontinental Exchange (ICE) Futures US dengan tingkat harga yang selalu berubah-ubah, sehingga Indonesia sebagai penghasil kopi, tetapi sayangnya harga ditentukan dari bursa komoditas London. Salah satu cara pemasaran kopi robusta juga dilakukan menggunakan kontrak berjangka. Indonesia merupakan salah satu produsen utama kopi robusta dunia, sehingga mekanisme pemasaran ini menguntungkan eskportir Indonesia. Kontrak Berjangka Kopi Robusta merupakan sarana lindung nilai bagi pelaku industri kopi robusta di Indonesia. Kontrak Berjangka Kopi Robusta memiliki periode perdagangan satu tahun untuk tiap-tiap bulan kontrak yang diperdagangkan. Pada saat jatuh tempo, pelaku pasar bisa memilih untuk melakukan serah terima fisik kopi robusta sesuai ketentuan yang berlaku pada gudang-gudang terdaftar yang berlokasi dekat sentra produksi kopi robusta.
Pemilihan kopi robusta bagi petani kopi Lampung tidak sekedar aspek ekonomi semata, tetapi juga sudah menjadi warisan turun temurun. Menanam kopi robusta seakan sudah kewajiban, sehingga wajarlah bahwa kopi Lampung menjadi bagian dari budaya Lampung. Pada tahun 2015 Pemerintah Pusat melalui Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menetapkan Robusta Lampung sebagai salah satu warisan budaya Lampung. Para era sekarang pengembangan pertanian kopi semain membudaya. Pemerintah telah membuat berbagai program untuk mengembangkan komoditas ini, sehingga Lampung tetap menjadi provinsi dengan penghasil yang besar dalam skala nasional. Kapasitas produksi Lampung telah ikut mendorong produksi kopi nasional dan menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga penghasil kopi setelah Brasil dan Vietnam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar